suatu kali semasa terlewatlah
ayah menutur tentang lereng-lereng, gunung-gunung dan bukit-bukit
semengalir air dan sesejuk angin dingin berhembus sayang
terlihat pahlawan tanah-tanah
terlilit selendang merah menyimpul di puncak kepala
gigi memerah dalam tawa
menari cangkul dipelataran ibu
ijenda kami r'ingan, nakku
pengadi-ngadin asa nggeluh
taneh erlebuh
bage nggeluh bage gia lah mate
riba-riba nakan e
turah me kari mejile
taneh bapanta
ninindu marenda
milik siapakah lereng yang menangis itu?
telah tertandatangan tuan-tuan bahwa:
inilah tanah milik para lonte kelas dunia
tercerabut dalam sanggama
menjual darah demi nakan riba-iba!
kini pula wahai,
para germo bersandar bertiang dolar
serapah dalam ludah-ludah merah
mengentuti para pahlawan tanah
yang meraung dan terinjak
harga dari sebuah kehamilan dan anak-anak yang telah dilahirkan!
kenakan kembali selendangmu, nande
kembali kita merebut kandungan-kandungan yang telah mandul
benahi rahimmu
hai para pejuang tanah!
kala nafas masih tersangkut di raga
buahilah tanahmu jangan ragu
lebuh matawari
ula erlengkah-lengkah ndarami si salah
lebuh udan
ula nari sitogan-toganen
si suan tanehta
radu kita nuan
suatu kali semasa terlewatlah
ketika ayah bercerita kala
bergulir disudut setitik air
mengenang cinta tanah karo berlereng bergunung-gunung
sekejap itulah meresap jauh dari puncak bebukitan
suara sarune memanggil anak-anak segera pulang
menyemai bibit dengan hati riang
suatu kali semasa terlewatlah
ketika melintas alam dalam perjalanan pulang
ada yang tertinggal jejak kenangan
bapa ras nande
radu nuan
Tawan, 9 Desember 2011
-----------
RADU NUAN : BERSAMA MENANAM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar