Sabtu, 10 Desember 2011

RADU NUAN

suatu kali semasa terlewatlah

ayah menutur tentang lereng-lereng, gunung-gunung dan bukit-bukit

semengalir air dan sesejuk angin dingin berhembus sayang


terlihat pahlawan tanah-tanah

terlilit selendang merah menyimpul di puncak kepala

gigi memerah dalam tawa

menari cangkul dipelataran ibu


ijenda kami r'ingan, nakku

pengadi-ngadin asa nggeluh

taneh erlebuh

bage nggeluh bage gia lah mate

riba-riba nakan e

turah me kari mejile

taneh bapanta

ninindu marenda


milik siapakah lereng yang menangis itu?


telah tertandatangan tuan-tuan bahwa:

inilah tanah milik para lonte kelas dunia

tercerabut dalam sanggama

menjual darah demi nakan riba-iba!


kini pula wahai,

para germo bersandar bertiang dolar

serapah dalam ludah-ludah merah

mengentuti para pahlawan tanah

yang meraung dan terinjak

harga dari sebuah kehamilan dan anak-anak yang telah dilahirkan!


kenakan kembali selendangmu, nande

kembali kita merebut kandungan-kandungan yang telah mandul

benahi rahimmu

hai para pejuang tanah!


kala nafas masih tersangkut di raga

buahilah tanahmu jangan ragu


lebuh matawari

ula erlengkah-lengkah ndarami si salah

lebuh udan

ula nari sitogan-toganen

si suan tanehta

radu kita nuan


suatu kali semasa terlewatlah

ketika ayah bercerita kala

bergulir disudut setitik air

mengenang cinta tanah karo berlereng bergunung-gunung


sekejap itulah meresap jauh dari puncak bebukitan

suara sarune memanggil anak-anak segera pulang

menyemai bibit dengan hati riang


suatu kali semasa terlewatlah

ketika melintas alam dalam perjalanan pulang

ada yang tertinggal jejak kenangan

bapa ras nande

radu nuan


Tawan, 9 Desember 2011

-----------


RADU NUAN : BERSAMA MENANAM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar